Cinta Apa Ini

(Disadur dari Novel Musafir Cinta karya Taufiqurrahman Al-Azizy)

Aku menghembuskan nafas. Kedua mataku tertuju kembali pada pemuda yang mendapatkan tempat duduk tadi, sedangkan aku masih tetap berdiri, di samping kursinya, di bus menuju Purwokerto ini.

Dan kini aku tahu. Yah, aku tahu. Aku benar-benar tahu. Pemuda itu sekarang duduk di samping gadis cantik berjilbab putih. Sesaat kuperhatikan wajahnya. Wajah itu mengingatkanku pada Khaura.

Aduh, Khaura. . .

Kenapa gadis itu mengingatkanku pada dirinya?

Sungguh, Allah itu Maha Indah. Keindahannya ditampakkan pada wajah berjilbab putih itu. Dilihat dari gerak-geriknya, dia kemungkinan besar seorang mahasiswi. Wajahnya yang masih padat itu pastilah khas wajah mahasiswi tingkat satu.

Dan aduhai betapa beruntungnya pemuda yang duduk di sebelahnya itu. Kini aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Wajahnya mengingatkanku pada wajah Brad Pitt, suami Angelina Jolie itu. Oh, aku bisa menebak sekarang: duduk di samping bidadari adalah harapan semua orang!

“Turun dimana ?”

Aku dengar pemuda itu bertanya kepada sang gadis berjilbab putih.

“Di Purwokerto. Mas sendiri?’ Binar-binar mata gadis itu menunjukkan bahwa dia senang ditanya. Bagaimana tidak senang pabila yang bertanaya bak malaikat seperti itu?

“Aku mau ke Purbalingga. Kuliah? Kerja?

“Kuliah.”

“Kuliah dimana?”

“Di UMS.”

“Fakultas?”

“Psikologi.”

“Wah, keren dong.!”

Gadis itu tersenyum. “Mas sendiri?”

“Aku di UNS. Fakultas Hukum semester akhir.”

“Wah, keren juga dong!”

Dan beruntung aku tidak duduk di sebelah gadis itu!!

Aku bukan anak kuliahan. Aku pun bukan seorang karyawan. Andai saja kursi yang diduduki pemuda itu adalah aku, entah apa jadinya jika pembicaraan berkisar tentang kuliah dan fakultas sepereti yang kudengar ini.

“Boleh kenalan nggak?” tanya pemuda itu. Dia mengulurkan tangannya.

Sang gadis tersenyum. Aduhai, senyumnya itu mengingatkan aku pada senyuman Zaenab! Gadis itu memberikan senyuman kepada pemuda itu.Dia menyambut uluran tangannya. “Aku Ida, Ida Mustamiroh. Mas sendiri?”

“Yoga, Yoga Alfianto. Ngomong-ngomong, sering pulang malam begini?”

“Ah, nggak juga. Kebetulan tadi ada tugas kampus yang harus diselesaikan. Jadi yaaah…telat pulang deh. . .”

“Berapa bulan sekali pulang sih?”

“Nggak tentu sih. Kadang sebulan, kadang dua bulan. Pernah juga sebulan dua kali.”

“Ngomong-ngomong¸ehm, apa ya. . .”

Mulai deh. Teriakku dalam hati. Mulai deh dia akan berkata seperti umumnya perkataan lelaki. Aku tahu apa yang akan dikatakannya itu. Ya, aku tahu, sebab aku laki-laki!

“Apa. . .?” tanya gadis itu.

“Ah, enggak. . .”

“Loh, apaan sih?”

Mulai deh sih gadis itu penasaran. Reaksi yang khas dari seorang perempuan yang mulai tertarik berbincang dengan seorang lelaki.

“Nggak. . .”

“Apa?”

Astagfirullah, pemandangan apa yang mulai kusaksikan ini? Ketika gadis itu berkata ‘apa’, kulihat tinju kanannya mulai berani memukul pinggang pemuda yang mengaku bernama Yoga tadi. Si Yoga mengaduh pura-pura. Pura-pura kesakitan dia, padahal, aku yakin, batinnya berteriak, “teruskan. . .teruskan. . .!”

Aduhai malam. . .

Malam di dalam bus kota. Yang hanya diterangi lampu memikat jiwa. Dua insan tengah meniti jalan mmemintal benang-benang asmara. Si perempuan bernama Ida, dan si laki-laki bernama Yoga.

“Boleh nanya nggak?”

Kudengar Yoga kembali bertanya.

“Ehm, sudah . . .sudah punya pacar belum?”

“Apaaaah. . .?”

“Iya, pacar. Laki-laki yang menyapa hatimu dan kamu menyambut sapaannya?”

“Emang kenapa?”

“Emang nggak boleh bertanya?”

“Yaaa boleh sih.”

“Yaa, jawab dong!”

“Kamu sendiri?”

“Belum. . .”

“Ah, gombal. Laki-laki seringnya begitu!”

“Bisa berkata begitu berarti udah pengalaman kan?”

“Pengalaman apa?”

“Apa lagi kalau bukan cinta.”

“Emang cinta apa sih?”

“Pingin tahu cinta?”

“He-eh.”

“Sini tanganmu. . .”

Tak bisa dibiarkan! Pekik hatiku. Dasar laki-laki bangsat keparat. Dengan seenaknya sendiri dia meraih tangan gadis berjilbab itu. Astagfirullah, dengan mudahnya pula gadis itu menyerahkan tangannya-menyerahkan tangannya untuk diremas-remas kedua tangan laki-laki ini.

Oh dunia, dunia. Dunia apa yang sedang aku saksikan ini Inikah dunia cinta? Jika cinta telah menyapa, akankah bus umum dianggap milik berdua?

“iih, jangan begitu ah.” Lirih gadis itu berkata.

“Nggak enak dilihat orang. . .”

Ketika kutahu pemuda itu akan menoleh ke arahku, aku memutar kepalaku, pura-pura tidak memergoki buncahan nafsunya.

“Kamu cantik. . .” lirih si Yoga itu berkata, tetapi cukup terdengar di telingaku. “Betapa bahagianya lelaki yang menjadi pacarmu. . .”

Hatiku berteriak, lepaskan! Lepaskan tangan haram itu, si keparat Yoga! Tidak sepantasnya engkau berlaku begitu. Aku tidak tahu apa agamamu dan apa ajaran yang kau pegang tentang pegang-pegangan tangan seperti itu. Tetapi, plis hormati dong gadis itu! Jangan jerat dia dengan nafsumu. Belalakkan kedua matamu: dia itu gadis berjilbab. Jilbabnya menunjukkan bahwa dia itu gadis muslimah. Malu sedikitlah pada Tuhanmu, duhahi anak muda!

“Mas, sudah punya pacar belum?”

“Dibilangin belum ya belum.”

“Sungguh?”

“He-heh. Sueer. . .sambar petir!”

Suar-suer suar-suer . . .! Aku marah. Aku benar-benar marah. Kusumpahi kesambar petir beneran baru tahu rasa!

Aku terus berusaha mencuri pandang kepada mereka berdua. Dan terus menggerutu. Pada babak selanjutnya, aku akhirnya hanya bisa mengelus dada. Kulihat gadis berjilbab putih bernama Ida itu mulai merebahkan kepalanya di pundak pemuda bernama Yoga.

Begitu mesra. Nyala redup lampu bus tentu semakin memikat hati keduanya!

Dunia, dunia. . .!

Aku benar-benar tidak habis mengert. Sesungguhnya, apa arti kemuliaan seorang lelaki? Apa pula artu kemuliaan seorang wanita? Apa yang kusaksikan malam ini adalah kenyataan tentang begitu mudahnya seorang wanita terjerat rayuan cinta sederhana seorang lelaki. Umumkah hal ini terjadi? Belum ada setengah jam mereka dua saling berkenalan. Tidak banyak percakapan yang mereka lakukan sebelumnya, tetapi begitu mudahnya mereka bermesraan seperti itu. Bisakah gadis itu disebut sebagai wanita mulia dalam hal cinta.

Aku menjadi teingat dengan sebuah ayat Al Qur’an yang telah kuhafalkan;

 

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yan keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang mereka tuduhkan oleh mereka (yang menuduh) itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). QS. An-Nuur: 26

 

Bus terus berjalan. Kusapu sekeliling dan kutemukan para penumpang sudah banyak yang tertidur. Sekali lagi, kuperhatikan Ida dan Yoga kutemukan mereka semakin rapat saja. Sungguh kasihan jilbab yang dikenakan gadis itu. Sungguh kasihan.

Tanpa kusadari, mataku mulai menghangat basah oleh air mata. Aku menjadi teringat kepada cintaku yang bernama Priscillia. Demi kehormatannya jilbabnya, dia rela untuk mendapatkan amuk dan siksa. Demi kehormatan jilbabnya, dia pergi meninggalkan orangtuanya.  Demi kemuliaan jilbabnya, dia berlari menyelamatkan diri ke pesantren.

Tetapi lihatlah gadis yang bernama Ida itu. Lihatlah dia. Betapa tidak berharganya kain kerudung yang menutupi rambutnya itu. Malam ini aku menjadi saksi betapa jilbab sama sekali tidak memiliki ruh pemakainya.

Ya Allah, seandainya saja Engkau akan menakdirkanku bersanding dengan Priscillia, bagiku itu merupakan takdir yang seindah-indahnya. Semoga Engkau menjauhkanku dari seorang gadis yang tidak menghormati hak-Mu seperti gadis bernama Ida!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s