Aku Anak Beruntung

Dari kecil, rasanya, saya memang anak pendiam. Ketika masuk TK, saya tak mau jika tidak diantar oleh ibu atau ayah saya. Saya juga sering diganggu anak-anak yang nakal saat TK. Tapi dari kecil saya sudah merasa beruntung. Karena saya masih bisa sekolah ? Tidak, saya beruntung karena saya anak bungsu dari 5 bersaudara. Apa enaknya jadi anak bungsu di tengah kakak-kakak yang sudah dewasa?

Saya cukup tenang dalam pergaulan karena merasa terlindungi dengan kakak-kakak saya. Saya juga paham urusan dewasa, seperti lagu-lagu orang dewasa waktu itu. Baju-baju kakak sering saya coba pakai. Membaca buku kakak-kakak saya. Saya juga belajar bergaul dengan kawan kakak-kakak saya. Saya bisa belajar bermain gitar, bermain sepak bola, bermain bola basket, bermain sepeda, banyak lagi.

Tak bisa saya sebutkan semua keberuntungan saya yang saya dapat dari mempunyai  5 orang kakak yang waktu itu sudah remaja dan dewasa. Banyak lagi yang hendak saya ceritakan akan keberuntungan saya karena memiliki kakak-kakak yang sudah remaja dan dewasa waktu itu. Tapi mungkin nanti. Semoga bisa saya ceritakan lebih banyak lagi.

Ada satu hal lagi yang juga membuatku merasa beruntung ketika aku masih kecil. Sebenarnya saya bisa merasakan keberuntungannya ketika saya sudah besar. Sebelum masuk TK, bagian yang memang wajib dipotong dari tubuh saya, maksud saya, disunat bisa terlaksana. Waktu itu saya dipaksa. Bersama dengan kakak saya yang nomor lima, kami akhirnya disunat. Siapa yang pertama kali disunat ? saya. Tak tahu bagaimana ceritanya hingga akhirnya saya yang pertama kali disunat. Waktu itu, yang memang dengan rasa terpaksa, tangan saya dipegangi dan ditidurkan laiknya sapi potong yang siap meregang nyawa saat hari raya kurban. Saya masih sangat ingat, saya disunat tepat di dekat pintu rumah. Tak tahulah, saat itu pintu dibuka. Mungkin agar ruangan di dalam terang. Mata saya ditutup dengan bantal, dipaksa. Sempat saya melihat ke arah pintu rumah di dekat tempat saya disunat, banyak orang yang senang menonton.  Salah satunya teman kecil saya. Begitulah, akhirnya saya disunat ketika masih berusia sekitar 5 tahun. Potongan dagingnya sebenarnya dulu tersimpan lama di rumah, tapi tak tahulah saya tidak menemukannya lagi. Sering kulihat-lihat waktu itu. Bentuknya aneh. Padahal sebenarnya itu sama saja dengan daging-daging yang biasa kita makan seperti daging ayam dan sapi.haha Dan satu lagi keberuntungan saya yang belum saya sebut, saya punya bapak seorang mantri yang memang biasa menyunat.^^

Tampaknya, memang kita semua dilahirkan dalam keberuntungan kita masing-masing. Hanya saja kita sering merasa iri dengan apa yang didimiliki orang lain. “Ah, enak sekali kamu cuma dua beradik, nggak repot.” Atau ada yang bilang “wah, enak ya punya kakak cewek, punya temen curhat”. Dan saya, rasanya ingin punya adik perempuan (bukan adik bayi), entah kenapa. Ya, begitulah perasaan manusia. Hati memegang kunci kehidupan. Jika kita pandai mengelola hati, maka mudah dan ringanlah rasanya menjalani kehidupan ini. Jika tak pandai-pandai mengatur hati, tengoklah, bahkan untuk hidup satu menit saja di dunia sungguh menderita rasanya. Hatinya liar tak terkendali. Seperti ungkapan “cinta ini membunuhku”. Apa yang sesungguhnya bermain ? Hati. Itu cuma menurutku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s