Bahasa Cinta

Sebelum memulai, saya ingin katakan bahwa ini bukan pelajaran bahasa. Ini adalah sebuah catatan yang keluar dari hati dan pikiran seorang manusia yang lemah, namun ingin belajar agar bisa kuat dalam mengarungi hidup, dengan agama, dengan cinta, dengan akhlak, dengan keyakinan, dengan apa pun yang mungkin bisa menutup segala kekurangan dalam diri-namun bukan untuk menutup-nutupi.

Dalam pelajaran bahasa, kebanyakan dari kita  pasti tahu bahwa unsur-unsur bahasa (ungkapan) biasanya terdiri dari kata, frasa, dan kalimat. Selain itu, kita juga mengenal yang namanya subjek dan predikat yang merupakan unsur dalam sebuah kalimat. Namun, dalam berkomunikasi ternyata kita sering menggunakan bahasa tanpa unsur-unsur tersebut. Bahasa tersebut bisa berupa benda atau simbol, atau bisa juga bahasa tubuh. Bahasa tanpa unsur-unsur bahasa yang kita kenal tersebut juga kadang lebih bermakna dari sebuah kalimat yang memiliki unsur Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan (SPOK). Tak jarang pula ia dirasa lebih mengena dan juga dapat menimbulkan sejuta misteri.

KITA SERING MENGGUNAKAN BAHASA TANPA “SPOK”

Sebuah kisah, seorang gadis muda, katakanlah namanya Risa, menyukai seorang lelaki muda yang sedikit bicara namum tampak bijak karena ia hanya mau berbicara jika memang diperlukan, namanya Azorfe-nama yang cukup bagus.
Suatu saat, Si gadis berpapasan dengan Azorfe. Dalam keadaan seperti itu, Si gadis, Risa, paham bahwa tak mungkin bagi dia untuk mengatakan sebuah kalimat panjang pada Azorfe, misal “hei Azorfe, saya menyukaimu. Kamu beda dari lelaki yang pernah kutemui selama ini”. Kalimat yang cukup panjang bukan ? Dan untuk Risa yang sudah dibuat grogi oleh Azorfe, tak kuasa bagi Risa untuk mengatakan kalimat itu. Apalagi ia tahu bahwa Azorfe seorang yang cukup dingin, namun bukan berarti sombong.

Apa yang bisa dilakukan Risa ? Ketika Risa lewat, hanya senyum yang bisa ia tunjukkan pada Azorfe. Itulah kalimat sederhana yang bisa ia ungkapkan pada Azorfe. Dan ternyata, kalimat itu diterjemahkan dengan sebuah cerita yang panjang oleh Azorfe. Kebetulan, Azorfe juga menyukai Risa yang juga memiliki wajah yang cukup cantik. Wajahnya memang tak secantik Dian Sastro Wardoyo, tapi justru Azorfe sebenarnya lebih suka penampilan Risa yang minimalis, senyumnya tipis menenangkan, ramah dan disukai teman-temannya yang lain dan yang paling penting bagi Azorfe, Risa bisa menjaga hubungannya dengan lelaki. Dan Azorfe tahu Risa sampai sekarang belum pernah memiliki pacar.

Dan ketika Risa menunjukkan senyum tipisnya pada Azorfe, Azorfe juga hanya bisa menununjukkan senyum simpulnya yang manis. Gigi putihnya sedikit terlihat saat ia tersenyum. Alisnya yang tebal mengangkat sedikit saat senyum. Rambutnya yang hitam lurus menutup sedikit keningnya yang memiliki bekas karena biasa Shalat menambah aura wajahnya semakin tampak berbeda di mata Risa.

Itulah kalimat sederhana yang bisa ditunjukkan keduanya. sedikit kata, bahkan tak bersuara. Namun banyak rasa dan yang sebenarnya dapat diwakilkan dengan kalimat yang panjang yang mungkin bisa dirangkai menjadi sebuah novel cinta yang menggugah hati.

Begitulah kita, bahkan dalam sebuah tulisan pun sering kita lihat orang menuliskan simbol wajah seperti ^_^ atau😀.
Hanya saja memang, tulisan seperti sulit diidentifikasi apakah itu tulus atau tidak.

Bukan hanya senyuman, bentuk tindakan pun ternyata juga merupakan ungkapan hati. Kita bisa merasakan dan mengenali pilihan-tindakan seorang kepada kita apakah menunjukkan sebuah ungkapan hati yang tulus atau tidak. Yang hatinya belum sakit, tentu saja itu bisa dilakukan, sangat bisa.

ITULAH MENGAPA CINTA TIDAK HARUS DIARTIKAN SEBAGAI SEBUAH SENTUHAN

Kembali ke kisah Azorfe dan Risa, ternyata setelah kejadian tersebut, sampai saat mereka tamat sekolah pun, mereka tidak pernah mengikrarkan bahwa Azorfe adalah milik Risa atau Risa adalah milik Azorfe. Hanya saja, rasa kagum diantara mereka tetap terpatri. Rasa diantara keduanya adalah anugerah Allah. Mereka tak bisa saling memungkirinya. Dengan rasa itulah, yang menginspirasi mereka satu sama lain untuk terus memperbaiki diri, berharap nanti mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan cinta yang suci, menikah. Mereka juga paham, rasa cinta mereka berdua tak akan melebihi rasa cinta mereka pada Sang Pemberi Cinta. Dan kalau pun nanti, mereka tak bisa bersatu dalam ikatan pernikahan pun, mereka ikhlas karena Allah adalah Sang Penentu yang tahu apa yang terbaik untuk hambanya.

Terakhir, aku juga ingin  mengungkapanku perasaanku pada saudara pembaca. Ini untuk kamu —> ^_^, terserah kalian ingin menerjemahkannya apa ?iwz

=================================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s