Kecupan Nikmat Durian di Ujung Jari

Hari ini, hari Minggu  Habis Shalat Isya’ berjamaah di Masjid di dekat kosanku di Indralaya, aku tak langsung pulang. Aku langkahkan kakiku ke warnet yang biasa aku sambangi jika tak ada kerjaan di kos, warnet Pandawa. Ada satu keistimewaan dari warnet ini. Bebas rokok ? bukan.  Full AC ? juga bukan. Keistimewaannya adalah warnet ini adalah warnet kepunyaan temanku di FKIP.hehe Ya, bagiku itu adalah suatu yang istimewa.

Hari ini kebetulan pengguna warnet agak sepi. Jadi beberapa komputer ada yang tak terpakai. Langsung saja aku buka situs andalan seluruh dunia saat ini, Facebook.hehe Selain itu juga aku buka twitter dan tentunya, ya WordPress ini. Sesaat kubaca-baca status teman-temanku di Facebook, pandanganku terhenti di salah satu status teman yang menulis keinginannya untuk makan “duren”. Aduhai! Aku juga jadi terharu.hehe Maksudnya terbuai!haha

Bicara duren, aku jadi teringat kebun duren keluarga yang ada di dusun yang sudah lama tidak berbuah. Tahun ini, kebetulan ada yang memberitakan kalau sekarang ini pohon-pohon duren di dusunku sudah banyak berbunga yang artinya akan segera berbuah. Katanya bunga-bunga itu akan menjadi buah sekitar bulan enam. Sekarang bulan dua, jadi tinggal 4 bulan lagi. Amboi! Sudah lama aku tak makan duren. Kemarin ketika di pasar ada beberapa orang yang menjual duren, selalu saja batal karena pertimbangan harga. Biasalah, karena penjual duren masih sedikit, jadi harga duren jadi agak mahal. Satu buah duren yang kecil saja sekitar Rp20.000. Bayangkan! Tak perlu lama tapi membayangkannya.hehe

CERITA MASA KECILKU TENTANG DUREN

Duren ternyata menjadi pemanis ceritaku di masa kecil. Jika diingat-ingat lucu juga.^_^ Pernah waktu itu aku merengek berlebihan karena merasa kurang makan duren yang dibeli sebelumnya. Ayahku yang mungkin merasa kesal mencoba memberi pelajaran kepadaku. Dibelikannyalah beberapa duren. Aku diminta menghabiskan satu buah duren. Harus habis. Padahal sebelumnya aku sudah makan beberapa biji buah duren. Aku makan dengan terpaksa, karena lama-lama enek juga.

Waktu bulan puasa, ketika kakekku (di daerahku kakek biasa disebut “nenek lanang atau disingkat nek anang) masih hidup, aku bersama salah satu kakakku pergi ke dusun untuk berlibur. Kebetulan waktu itu musim duren. Sampai di dusun, sekitar jam 10an kami langsung pergi menuju kebun duren (di dusunku kebun duren disebut “hepang”). Perjalanannya cukup jauh. Ketika sampai di pondok di dekat kebun duren, kami melihat duren-duren sudah banyak bertumpuk. Baunya yang harum membuat aku “ngiler”. Ada yang berukuran besar, sedang, sampai yang kecil dengan jenis duren yang berbeda-beda. Duren yang besar biasa disebut orang dusunku “dehian bantal” (durian bantal).  Kalau yang kecil aku tak tahu namanya, setahuku ya namanya cuma “duren”. Tak ada gelar dibelakangnya.hehe Ada istilah yang unik untuk menyebut ketebalan daging buah duren. Kalau yang tebal biasa disebut “luyak” dan kalo yang tipis disebut “dangkal”. Warna daging buah duren ini juga berbeda-beda. Ada yang kuning pekat, kuning biasa (warna mentega), kuning kehijau-hijauan (aku lebih suka yang ini karena rasanya beda), dan ada kuning yang hampir mendekati warna putih (yang ini biasanya kurang manis).

Sesaat sampai di kebun duren itu, kakekku yang kebetulan menjaga kebun menawariku untuk makan duren. Hmm, benar-benar menggoda. Hari itu bulan puasa. Imanku goyah, kawan!haha Waktu itu kebetulan masih jam 11an. Imanku hanya bertahan hingga tengah hari, jam 12 siang. Aku menyerah, kawan! Akhirnya hari itu puasaku bolong.

Benar-benar dahsyat karisma buah ini.haha Saat ini aku sungguh ingin makan buah duren. Hmm, bisa kurasakan lembut dagingnya yang manis. Nikmat semakin menggebu ketika…hmm makan berebut bersama kawan-kawan. Jatah duren yang semakin sedikit karena jumlah orang yang makan banyak membuat tangan-tangan menjadi lebih lincah mencicipi buah berduri ini. Sampai-sampai sisa duren yang ada di jari pun rasanya sayang untuk dilewatkan. Ah, duren. Aku semakin ingin menikmati kamu.^^

3 pemikiran pada “Kecupan Nikmat Durian di Ujung Jari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s