Ceritaku (Mengajar)

Di kamar yang nyaman dengan 3 buah kasur terbentang, aku masih tergolek-tak jua rela melepaskan sentuhan kasur yang empuk. Mataku memicing, dada menghadap ke bawah dan kepala mengarah ke kanan, melihat ke arah jam yang menempel di tembok yang sengaja dilewatkan 10 menit oleh temanku, Dimas namanya. Lagi-lagi aku bangun kesiangan, jam setengah enam. Shalat shubuh berjamaah di masjid tak tertunaikan hari itu. Langsung saja bergegas mandi dan mengambil wudhu untuk Shalat Subuh.

Sungguh beda rasanya Shalat sendirian dengan Shalat berjamaah di masjid. Begitu banyak pikiran berkelabat di pikiran yang membuatku tak khusyuk dalam Shalat. Saat itu, mungkin, yang aku pikirkan adalah murid-muridku di sekolah tempat aku latihan mengajar, SMA Srijaya Negara Palembang. Atau, mungkin juga, keluhan-keluhanku dalam menjalani latihan mengajar ini. Ah, lain kali jangan sampai terlambat bangun lagi.

Di bulan September sampai November ini, aku memilki rutinitas mengajar di sebuah SMA di Palembang yakni di SMA Srijaya Negara Palembang. Rutinitas ini adalah agenda wajib yang harus dilaksanakan mahasiswa pendidikan sepertiku. Rutinitas yang sangat memberatkan awalnya, karena setiap 4 hari dalam seminggu (Senin, Selasa, Jumat, Sabtu) aku harus pergi ke Palembang dari Indralaya setidaknya pukul 6 pagi dan harus tiba disana pukul 7 pagi. Mulai dari menunggu travel yang tak pasti kapan kedatangannya. Tiba di sekolah biasanya terlambat. Dan setelah tiba waktunya pulang, di siang yang panas aku harus kembali lagi ke Indralaya. Rasanya tak rela menghabiskan uang untuk ongkos pulang-pulang pergi selama 4 hari ke Palembang, di tambah lagi jam mengajar yang kata teman-temanku yang juga mengajar di sekolah lain “wah, penindasan itu”. Ketika aku harus mengajar selama sekitar 16 jam selama 4 hari setiap minggu, teman-temanku di sekolah lain hanya mengajar selama 2 hari, ada juga 3 hari dengan jam mengajar paling tidak 3 jam per harinya. Belum lagi di malam harinya aku harus menilai latihan murid-muridku, mengerjakan Rencana Pembelajaran yang harus dikerjakan di buku jurnal setiap harinya. Sedikit sekali rasanya waktu untuk istirahat. Itulah perasaanku di awal-awal masa pelatihan mengajar (Program Pengalaman Lapangan FKIP Unsri).

AKU BISA MENIKMATINYA LAMA KELAMAAN

Siapa yang tak bahagia, jika melihat murid-murid kita tampak ceria ketika belajar di kelas. Ada sebuah kenikmatan tersendiri ketika kita melihat kegairahan di dalam kelas. Sebetulnya, aku sangat menyukai mereka- Senyum mereka, keluguan mereka, cara mereka meminta perhatian-baik perempuan mau pun laki-laki. Aku kadang merasa lucu, karena dulu aku juga begitu. Aku mulai menyukai rutinitas ini, apalagi di awal bulan kedua aku sudah memiliki kos di Palembang, di dekat SMA aku mengajar.

Aku belajar sendiri bagaimana mengelola kelas. Di tiap kelas yang aku ajar, aku menemukan pola perilaku yang berbeda-beda. Ada yang 1. Murid cowok dan ceweknya rata-rata aktif dan pintar dalam kelas, jadi murid cowok yang, katakanlah nakal, menjadi terbawa suasana kelas yang aktif sehingga kelas mudah untuk diatur; 2. Murid cewek dan cowoknya kurang begitu mudah memahami pelajaran dan sedikit nakal, tetapi mereka kooperatif dan mudah diatur. 3. Murid cewek dan cowoknya rata-rata “susah diatur”, butuh sikap tegas untuk mengatasi perilaku-perilaku mereka dengan taruhan “dibenci oleh murid” atau “dianggap lebai dan sok ngatur” oleh murid. Bahkan kelihatannya ada juga permasalahan antara murid nakal yang suka mengintimidasi temannya yang pendiam, juga murid cewek yang “minta ampun centilnya”.

Menurutku, perkenalan awal menjadi hal yang sangat menentukan dalam mengajar. Mereka harus tahu siapa kita sebagai guru. Kita harus bisa menunjukkan bahwa kita memang pantas untuk disegani dan dihormati. Apalagi untuk mahasiswa sepertiku, pandangan bahwa aku cuma sekedar mahasiswa PPL yang dianggap “tidak ngefek” bagi proses pendidikan mereka di sekolah harus bisa kita buang jauh dari pikiran mereka. Di sinilah, hubungan antara guru dan murid dibangun, dapat dengan melakukan games atau kegiatan-kegiatan lain yang dapat menambah kedekatan kita dengan murid.

Banyaknya permasalahan-permasalahan dalam pengelolaan kelas yang aku temui membuatku penasaran dan ingin tahu lebih banyak lagi tentang bagaimana metode-metode efektif yang bisa aku gunakan dalam kelas. Memang, selain dari matakuliah pendidikan yang aku dapatkan di kuliah, aku juga biasa membaca buku-buku mengenai pendidikan anak-psikologi anak, metode belajar yang menyenangkan, dan lain-lain. Kemudian ditambah lagi dengan kegiatan berorganisasi yang aku geluti selama ini, setidaknya membuatku memiliki bekal sedikit untuk bisa tampil percaya diri di depan murid-muridku.

AKU PUNYA TEMAN BARU

Murid adalah teman yang menyenangkan. Kata-kata mereka yang menunjukkan perhatian dan kepedulian membuat diri menjadi merasa lebih berarti. Karena memang penghargaan menurut beberapa pakar adalah sebuah kebutuhan tertinggi yang dibutuhkan manusia. Itulah mengapa banyak orang yang sudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi, ketika mereka jenuh dan mendapatkan guru sebagai profesi barunya, mereka merasakan seolah-olah segala kebutuhannya, kebutuhan untuk dihargai, kebutuhan untuk berbagi dan mendapatkan ilmu, dan lain sebagainya sudah terpenuhi.

Kebetulan, selain mengajar di SMA Srijaya Negara Palembang, aku juga diminta (ditawari) untuk menggantikan seorang dosen universitas yang juga guru di sekolah tempat aku mengajar selama 4 minggu. Bagiku, ini sungguh kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga. Di situ aku bisa mengenal banyak orang. Dan biasanya, orang akan sulit melupakan orang yang telah berbagi sesuatu yang baik dengan dirinya. Semoga saja.😀

DAN SEKARANG AKU HANYA MENIKMATI

Sekarang, masih ada waktu sekitar satu bulan lagi bagiku untuk mengajar di SMA Srijaya Negara palembang. Aku sudah membayangkan akhir perpisahan nanti. Semoga saja akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan, bagiku dan bagi murid-muridku. Amin, insyaAllah.

Kepada murid-muridku yang nakal (biasa anak SMA), yang centil, yang cantik, yang ganteng, yang pintar dan tak ada yang bodoh. Ingatkan diri ini yang masih belum sempurna dalam mendidik dan mengajar kalian. Kalo di luar sekolah, jangan segan-segan panggil “kakak”, karena aku masih sangat muda. Tapi bentar lagi mau nikah, insyaAllah. Amin Ya Raab.😀

SALAM HANGAT UNTUK SISWA, KARYAWAN, DAN GURU SMA SRIJAYA NEGARA (SRI JACK).

Ike Wardhana Efroza aka Iwaza
Malam Jum’at di Warnet Bukit, Palembang

3 pemikiran pada “Ceritaku (Mengajar)

  1. alhamdulilah sir kalo memang SMA srijaya negara memang baik untuk cr temen2 yg baru heheh🙂
    jadi nambah pengalaman ,
    hehhee dan biso dapet murit kayak aku yo dir hehehe
    good luck ya sir,
    smoga karier ny di dunia pendidikan lebih mateb hehe amin🙂

  2. nilam:
    alhamdllah..bs nemu adk baru kyk Nilam..haha
    thanks doanya. kita semua da’i (mengajarkan kebaikan) sebelum profesi apa pun. apa pun profesinya, terus mdidik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s